Entri Populer

Selasa, 15 Oktober 2019

PERGESERAN DAN PEMERTAHANAN BAHASA MANDARIN PADA KELUARGA KETURUNAN WNI CINA DI KABUPATEN LUMAJANG


oleh
Elfi Mariatul Mahmuda
SMA Negeri 3 Lumajang

1. Pendahuluan
Pergeseran dan pemertahanan bahasa menyangkut soal bahasa sebagai kode yang bersifat dinamis. Karena kode-kode itu tidak pernah lepas antara yang satu dengan yang lainnya maka bahasa bisa berubah. Pergeseran bahasa (language shift) menyangkut masalah penggunaan bahasa oleh seorang penutur atau sekelompok penutur yang terjadi akibat perpindahan dari satu masyarakat tutur ke masyarakat tutur yang lain. Sedangkan pemertahanan bahasa menyangkut masalah sikap atau penilaian terhadap suatu bahasa untuk tetap menggunakan bahasa tersebut di tengah-tengah bahasa lainnya (Chaer:1995).
Adalah suatu kenyataan bahwa bahasa Indonesia terdiri dari beragam suku dan bahasa. Dalam situasi resmi orang Indonesia berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia. Tetapi, dalam situasi tidak resmi, percakapan sehari-hari, misalnya, orang Indonesia yang terdiri atas bermacam-macam suku dan berbicara dalam bermacam-macam bahasa tidak selalu memakai bahasa Indonesia dalam berkomunikasi. Mereka kadang-kadang memakai bahasa daerah masing-masing, bahasa daerah tempat asal mereka.
Tidak berbeda dengan bangsa lainnya, penggolongan masyarakat yang dilatarbelakangi oleh kebangsaan etnis (suku), kebanggaan keturunan, dan ciri-ciri khas kebahasaan yang dimiliki masih juga tampak dalam kehidupan kemasyarakatan Indonesia. Salah satu golongan yang dimaksud adalah warga negara Indonesia (WNI) keturunan Cina.
Warga negara Indonesia (WNI) keturunan Cina adalah orang-orang keturunan pendatang atau kelompok pendatang (imigran) dari Cina. Untuk berkomunikasi mereka menyesuaikan diri dengan keadaan sekitar, yaitu meninggalkan bahasa mereka sendiri lalu berganti menggunakan bahasa penduduk setempat. Lambat laun terjadilah pergeseran bahasa mereka. Selain itu, dengan munculnya kebijaksanaan pemerintah, yaitu program asimilasi terhadap seluruh penduduk WNI keturunan Cina dan penduduk Indonesia WNA semakin cepatlah proses pergeseran bahasa itu dan memunculkan sikap pemertahanan bahasa di antara kelompok-kelompok masyarakat itu.
Kajian terhadap pergeseran dan pemertahanan bahasa secara umum dimaksudkan untuk mendeskripsikan terjadinya, sebab-sebab terjadinya, dan pilihan bahasa di tengan masyarakat. Berikut ini dibahas sedikit masalah pergeseran dan pemertahanan bahasa Mandarin pada satu keluarga WNI keturunan Cina di Lumajang.

2. Konsep Dasar
2.1 Pergeseran Bahasa
      Pergeseran bahasa umumnya mengacu pada proses penggantian satu bahasa dengan bahasa lain dalam repertoir linguistik suatu masyarakat. Pergeseran bahasa mengacu pada hasil proses ini (Ibrahim, 2003). Pergeseran bahasa dapat diartikan sebagai pergeseran penggunaan bahasa oleh seorang penutur atau kelompok penutur akibat perpindahan dari satu masyarakat tutur ke masyarakat tutur yang lain atau mobilitas penduduk. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pergeseran bahasa adalah:
a. Faktor ekonomi, sosial, dan politik
            Masyarakat memandang adanya alasan penting untuk mempelajari bahasa kedua dan mereka tidak memandang perlu untuk mempertahankan bahasa etnisnya. Semua itu untuk tujuan meningkatkan ekonomi, status sosial, atau kepentingan politik.
b. Faktor demografi
            Letak daerah baru yang jauh dari daerah asal bisa menjadi kontribusi mempercepat pergeseran bahasa. Hal ini disebabkan kelompok-kelompok pendatang akan mengadakan asimilasi dengan penduduk setempat agar mudah diterima menjadi bagian masyarakat setempat.
Pergeseran bahasa biasanya terjadi di negara, daerah, atau wilayah yang bisa memberi harapan untuk kehidupan sosial ekonomi yang lebih baik sehingga mengundang penduduk daerah lain untuk mendatanginya. Letak daerah baru yang jauh dari daerah asal bisa menjadi kontribusi mempercepat pergeseran bahasa. Hal ini disebabkan kelompok-kelompok pendatang akan mengadakan asimilasi dengan penduduk setempat agar mudah diterima menjadi bagian masyarakat setempat. Adanya pergeseran bahasa dapat mengakibatkan punahnya suatu bahasa karena ditinggalkan oleh para penuturnya. Peristiwa ini terjadi bila pergeseran bahasa terjadi di daerah asal suatu bahasa digunakan.

2.2 Pemertahanan Bahasa
            Pemertahanan bahasa adalah sikap atau penilaian terhadap suatu bahasa kemudian tetap menggunakan bahasa tersebut di tengah-tengah bahasa lainnya. Faktor-faktor yang mendorong terjadinya pemertahanan bahasa adalah sebagai berikut.
a.      Pola-pola penggunaan bahasa.
Ini berarti semakin banyak domain tempat dipakainya bahasa minoritas maka semakin besar kesempatannya untuk mempertahankan bahasa itu. Kemungkinan-kemungkinan itu kebanyakan akan ditentukan oleh faktor-faktor sosial ekonomi.
b.      Faktor-faktor demografis.
Jika suatu kelompok itu cukup besar sehingga mampu menyediakan banyak penutur dan mampu mengisolasi dirinya sendiri dari kontak dengan penutur bahasa mayoritas, paling tidak dibeberapa domain maka terdapat kesempatan lebih banyak untuk mempertahankan bahasa. Bila anggota-anggota masyarakat etnis tinggal di lingkungan yang sama, hal ini juga membantu mempertahankan bahasa-bahasa minoritas hidup lebih lama. Frekuensi kontak dengan tanah leluhur juga sangat penting sebagai pemberi kontribusi pemertahanan bahasa.

c. Sikap terhadap bahasa minoritas.
            Jika bahasa dihargai dan diperlakukan dengan penuh kebangaan sebagai pengenal kelompok minoritas dan mengungkapkan budaya yang berbeda, lebih besar kemungkinan bahasa itu bertahan. Begitu pula akan sangat membantu bila bahasa itu memiliki status di masyarakat.

3. Masyarakat WNI Keturunan Cina
            Masyarakat WNI Cina ditinjau dari kebudayaannya terutama bahasa dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu: kelompok Cina peranakan dan kelompok Cina “totok” (Wolf, dalam Sudja’I, 1978). Perbedaan utama antara orang Cina peranakan dan orang Cina “totok” terletak pada bahasa mereka. Orang Cina peranakan adalah penutur asli bahasa Indonesia karena mereka lahir dan dibesarkan di Indonesia. Mereka telah meninggalkan bahasa Cina sebagai bahasa ibu mereka, namun masih tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional. Sedangkan orang Cina “totok” adalah penutur asli bahasa Cina.
            Di negeri leluhur mereka masyarakat Cina dibedakan atas empat kelas, yaitu: (1) kelas cendekiawan, (2) kelas petani, (3) kelas buruh, dan (4) kelas saudagar. Golongan (kelas) cendekiawan tidak berimigrasi ke luar. Jadi, hanya golongan 2, 3, dan 4 saja yang merantau.
            Dewasa ini orang Cina peranakan dalam berhubungan dengan teman-teman mereka, baik yang berasal dari tanah leluhurnya maupun yang berasal dari orang-orang pribumi, unsur bahasa Indonesianya lebih besar daripada kalau mereka berhubungan dengan orang-orang Cina “totok”. Sebaliknya, jika mereka berhubungan dengan orang-orang Cina ‘totok”, unsur Mandarinnya lebih banyak daripada unsur bahasa Indonesianya.
            Dari uraian di atasa, jelas bahwa dalam masyarakat WNI Cina telah terjadi pergeseran bahasa terutama orang Cina peranakan. Mereka bukan lagi penutur asli bahasa Cina melainkan penutur asli bahasa Indonesia.

4. Pola Bahasa Keluarga Keturunan WNI Cina
            Meiliana adalah perempuan peranakan atau keturunan WNI Cina yang tinggal di Lumajang. Ayahnya seorang Cina ”totok” yang berimigrasi ke Indonesia dan menetap di Lumajang. Saat kecil Meiliana diasuh oleh pembantunya orang Jawa bernama Aripah. Keluarga Meiliana dalam bertutur menggunakan bahasa Jawa saat berkomunikasi dengan lingkungan di sekitarnya. Begitu juga saat bertutur dalam keluarga, mereka menggunakan bahasa Jawa dengan sedikit campuran bahasa Cina (Mandarin).
            Meiliana menikah dengan pria yang sama-sama keturunan WNI Cina. Saat berkomunikasi dengan suaminya, Meiliana menggunakan bahasa campuran, yaitu bahasa Jawa, bahasa Indonesia, dan sedikit bahasa Mandarin. Tetapi saat bertutur dengan teman-temannya sesama keturunan WNI Cina, Meiliana banyak menggunakan bahasa Indonesia dengan disisipi bahasa Mandarin.
            Pada  2001 di Lumajang berdiri tempat kursus bahasa Mandarin “Maju Bersama”. Pada awalnya tempat kursus itu dibuka untuk kalangan orang-orang keturunan WNI Cina saja, tetapi kemudian dibuka untuk umum. Di tempat inilah Meiliana meningkatkan kemampuannya berbahasa Mandarin  Suatu hal yang tidak diperolehnya saat orang tuanya hidup. Selain itu ia pun mengikuti organisasi orang-orang keturunan WNI Cina. Dalam satu kesempatan Meiliana  mengikuti tour ke negeri Cina, kesempatan ini dipergunakan untuk menelusuri kota asal leluhurnya.


Jumat, 04 Oktober 2019


The Strategy in Newspaper Text
(A Critical Discourse Analysis of Newspaper Text)

By

Elfi Mariatul Mahmuda, M.Pd
Guru Bahasa Indonesia SMA Negeri 3 Lumajang 
Yatno, S.S, M.Pd.,
Doctoral program students Universitas Sebelas Maret Solo



ABSTRAK

Pengaruh koran pada pembaca sangat signifikan di tengah masyarakat karena berita-berita yang dihasilkan menjadi acuan untuk menafsirkan masalah-masalah publik. Strategi mengonstruksi berita pada suatu peristiwa bisa memengaruhi pembaca menjadi bersimpati atau membenci seseorang dalam teks berita. Tetapi, strategi mengonstruksi berita belum banyak dijadikan bahan kajian yang menarik.Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan pola strategi penulisan teks berita pada aspek-aspek representasi, relasi, dan identitas. Itu menjadi sarana  wartawan untuk memengaruhi pembaca.
Penelitian ini bersifat kualitatif dengan paradigma kritis. Metode yang dipakai adalah analisis wacana kritis (AWK), sebuah pendekatan kritis pada wacana untuk mencari hubungan antara teks (micro level) dengan konteks sosial masyarakat (macro social level). Data diambil dari lapangan, yaitu pemakaian bahasa Indonesia di koran Jawa Pos, Kompas, dan Surya. Data dijaring menggunakan teknik observasi langsung lalu dianalisis menggunakan ‘model alir’ Miles dan Huberman.
Dalam penelitian ditemukan bentuk-bentuk kebahasaan seperti: kosa kata, tata bahasa,  koherensi lokal, dan rangkaian antarkalimat. Keempat bentuk kebahasaan itu dideskripsikan dan dikaitkan dengan variabel penelitian: representasi. Analisis membuktikan bahwa wartawan menyusun representasi teks berita menggunakan strategi mendayagunakan kosa kata yang memiliki makna khusus untuk menciptakan suasana, bentuk kalimat aktif untuk membentuk proses berita, koherensi lokal untuk memperjelas pengertian isi berita, dan menonjolkan pelaku berita untuk menunjukkan reaksi mendukung atau menentang suatu masalah dalam isi berita. Temuan lain, relasi dibentuk wartawan dengan strategi menampilkan pendapat partisipan publik yang diangkat sebagai ide dominan teks. Sikap wartawan memilih salah satu pendapat partisipan sebagai bentuk dukungan terhadap partisipan. Pada identitas, strategi yang digunakan adalah wartawan mengidentifikasi dirinya sebagai bagian partisipan publik. Partisipan publik yang ditampilkan berasal dari berbagai golongan dengan latar belakang sosial berbeda. Para partisipan itu beradu argumentasi dalam ruang media. Dengan demikian suatu teks dipengaruhi konteks sosial, misalnya nilai-nilai dan ideologi dalam masyarakat atau institusi, seperti: pemerintah, politik, ekonomi, hukum, agama, dan sebagainya. Strategi-strategi tersebut digunakan untuk menyusun teks berita sehingga muncul fakta dan objektivitas wartawan yang kebenarannya diterima oleh pembaca.
Hasil penelitian ini menunjukkan fenomena pemakaian bahasa yang konkret di tengah masyarakat. Temuan-temuan membuktikan bahwa bahasa teks berita tidak netral tetapi mengandung kepentingan-kepentingan tertentu di dalamnya. Keterbatasan penelitian ini karena meneliti penggunaan pola strategi penulisan bahasa di satu jenis media saja, yaitu koran pada satu jenis teks berita.


Kata kunci: Strategi Teks Berita; Representasi; Relasi; Identitas; Konteks Sosial.



ABSTRACT


The influence of newspapers to readers is significant in society, because printed news have become a reference to interpret public problems. The strategies in constructing newspaper text on real events will influent readers to sympathetic and hatred someone ‘actor’. However, not many researches on the strategy have been conducted. This research is to describe a pattern strategy in constructing newspaper text, and analyze on the aspects of representation, relation, and identity, journalists are make-believe the readers. The qualitative research of critical paradigm uses Critical Discourse Analysis, to find the relationship between texts (micro level) with the context of social community (macros social level). Field notes data are taken from newspapers text of Java Post, Kompass, and Surya. Researcher uses direct observation, data codification system, and the guidance to analyze data. The data collection is analyzed using Flow Analysis Models Miles and Huberman. There are linguistic forms, in finding, such as words vocabulary, grammatical, local coherency, and relationship between sentences. Researcher describes and relates variables with all the four linguistic forms. There is Representation strategy, which journalists manipulate vocabulary specific meaning creating moods in the form of Active Sentence, and highlighting actor(s) reaction in support or against context. Meanwhile, Relation shapes the strategy to present participant at the eyes of public opinions as dominant, the opinions to support the participant by the text. On Identity, public participant in the text come from different social class of background in society. Journalist is identified himself as part of the public participants, and all the participants have self-interest in media room. Thus, a text will be instructed by the context of social rules, for example values and ideology in a community or institution, such like government, politics, economy, law, religion, and so forth. It is the strategy to compose the text, so it appears the true facts and the objectivity of journalists accepted by readers. The result shows not neutral phenomena in using specific language codes in the society, and contains particular self-interest of the journalist and participants. Nevertheless, the research of pattern strategies in constructing text newspapers has its weaknesses and limited to one type of media newspapers on text news.

Keywords: Strategy; Representation; Relationships; Identity; Context Social.


REFERENCE

Brown, Gillian & Yulle. 1996. Analisis Wacana. Terjemahan I. Soetikno. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Eriyanto, 2001. Analisis Wacana. Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LKis.

---------, 2002. Analisis Framing. Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: Lkis.

Foucault, Michel. 2002a. Wacana Kuasa/Pengetahuan. Terjemahan Yudi Santoso, dari Power/Knowledge, Michel Foucault. Yogyakarta: Penerbit Qalam.

---------, 2002b. Arkeologi Pengetahuan. Terjemahan H.M Mochtar Zoeini, dari The Archeology of Knowledge, Michel Foucault. Yogyakarta: Penerbit Qalam.

Halliday, MAK dan Ruqaiya Hasan. 1994. Bahasa, Konteks, dan Teks: Aspek-aspek Bahasa dalam Pandangan Semiotika Sosial. Terjemahan Asruddin Barori Tou, dari Language, Contexts, and Texts: Aspect of Language in a Social semiotic Perspective. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Ibrahim, Abdul Syukur. 2003a. Bahan Ajar Pragmatik. Program S2 Pendidikan Bahasa Indonesia. Universitas Islam Malang (Tidak Diterbitkan).

Moeleong, Lexy J. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Piliang, Yasraf Amin.2003. Hipersemiotika (hyper-semiotics). Yogyakarta: Jalasutra.

Rani, Abdul (dkk). 2004. Analisis wacana. Sebuah Kajian Bahasa dalam Pemakaian. Malang: Bayumedia Publishing.

Rivers, William L. 2003. Media Modern  dan Masyarakat Edisi Kedua. Terjemahan Haris Munandar dan Dudy Priatna, dari Mass Media and Modern Society 2nd Edition, William L. Rivers. Jakarta: Prenada Media.

Santoso, Riyadi. 2003. Semiotika Sosial. Surabaya: Pustaka Eureka dan JP Press.

Yule, George. 2006. Pragmatik. Terjemahan Indah Fajar Wahyuni, dari Pragmatic, George Yule. Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar.






  




KEBERADAAN SASTRA ‘HANYA’ UNTUK MENDUKUNG
MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA
KURIKULUM 2013
(Sebuah Telaah Materi Teks Cerita Pendek dalam
Buku Bahasa Indonesia, Ekspresi Diri dan Akademik untuk
Kelas XI SMA, Semester 1)

 Elfi Mariatul Mahmuda
Guru Bahasa Indonesia SMA Negeri 3 Lumajang, email ningelfi@gmail.com


ABSTRAK

Sejak Kurikulum 2013 diberlakukan pembelajaran bahasa Indonesia menerapkan pendekatan saintifik. Di samping itu bahasa Indonesia pun diajarkan dengan  berbasis teks. Pada jenjang SMA ada tiga teks bermateri sastra dari 15 yang di ajarkan, yaitu cerita pendek, teks pantun, dan teks cerita fiksi dalam novel.  Ketiga teks sastra itu dipelajari berdasarkan struktur teks dan kaidah kebahasaannya. Dengan demikian tidak ada lagi pembelajaran khusus sastra karena materi ini menjadi bagian mata pelajaran Bahasa Indonesia. Ini berarti teks-teks sastra itu ditujukan  untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan berbahasa bukan terhadap sastra. Bahasa sastra dengan nonsastra memiliki perbedaan sehingga dalam pembelajarannya pun akan memiliki strategi yang berbeda pula. Ini sebuah fenomena yang menarik karena dalam Kurikulum 2013 semua mata pelajaran menggunakan pendekatan saintifik dalam pembelajarannya. Dengan pendekatan kualitatif peneliti mengkaji bagaimana bahan pembelajaran sastra khususnya teks cerita pendek dijabarkan dalam buku berbasis Kurikulum 2013 diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, berjudul Bahasa Indonesia, Ekspresi Diri dan Akademik untuk SMA, Kelas XI Semester 1. Dengan menelaah materi teks sastra pada buku ini, akan diperoleh alternatif pembelajaran sastra khususnya teks cerita pendek di SMA.


Kata kunci:  kurikulum 2013, pendekatan saintifik, pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks, sastra, cerpen