Entri Populer

Selasa, 27 September 2011

SYAIR KELOPAK MAWAR


Daun-daun terkapar kekuningan,
Bunga mawar menggigil kedinginan,
Tergores koyak rangkaian kelopak mekar,
Gemerisik angin memerihkan sukma yang nanar,
Patahkan ranting-ranting harapan satu demi satu
Bibirmu pun terkatup kelu merasai bekunya hati,
Jiwamu tanpa rasa, senyummu hampa,
Tatkala tangismu mengurai sepi, air matamu menjadi mahkota tepian duka,
Wahai sang Pujangga Semeru, kenapa kau biarkan hatimu membongkah batu?
Petiklah dawai kecapimu,
Iringi senandung prenjak menyambut fajar pagi,
Aku tahu ceruk hatimu memendam serpihan kaca retak,
Tapi, biarkan benang-benang sutera embun pagi merajut luka hati abadimu,
Lanjutkan hidupmu,
Kau kuat menghadapi tiupan badai,
Kau adalah Icarus yang tetap terbang dengan sayap lilin melelehmu.


BUNGA MATAHARI DAN MATAHARI


bunga matahari selalu menghadap ke arah matahari
adakah itu kau perhatikan?

bunga matahari tanpa matahari,
hanya sekuntum ‘bunga’ tanpa arti
adakah itu kau pikirkan?

bunga matahari dan matahari
adalah kesetiaan yang sederhana
adakah itu kau mengerti?

aku adalah bunga,
kau matahariku?

BAYANGANMU DAN AKU


Aku berdiri di tebing waktu yang perlahan menggelincirkan mentari dalam rengkuhan malam. Sejumput awan yang tersisa memandang pucat pada bumi yang penat. Aku terkubur dalam semburat serat sutera lembayung senja. Kuteriakkan lirih rasa sakitku tercabik jarak, menghujam bayanganmu di kedalaman nadi. Angin senja mengusap sepi rinduku.

PENERIMAAN


aku tidak tahu apa yang kauharapkan, tapi
“terimalah rangkaian melati ini
pada kelopaknya telah kubasuh dengan
tetesan embun tadi pagi”

kau memandangku
aku tak berani memandangmu

satu langkah dalam perjalanan
bertautan pada celah kehidupan
antara kau aku
dan
kau di hadapanku
aku di hadapanmu

padamu kutemukan
kekuatan lelaki pengembara
penakluk seribu gunung tujuh samudra
namun nadimu berdetak gundah

ah!
menyesalkah kau karena lukisan
jiwamu terkungkung kabut malam?

tapi,
“terimalah bunga ini,
rangkaian sukma bertali kasih putihku
biarkan roda bergulir
bila diri terlindas, tak usah menjerit
sebab di situlah nafas kehidupan dalam genggaman.”


ILUSI PUCUK-PUCUK RANDU


bila saatnya tiba
batas waktu menjadi tipis
bulan dan matahari bersatu
bersama berbagi sinar kehidupan
mengusir kabut di pucuk-pucuk kapuk randu

ketika aku tanpa mimpi
getaran rindu menggoda hati,
pada rasa harum melati
namun, panasnya angin tengah padang berhembus
menerpa debu tanah tak terkendali
berpusar, tertapis batang-batang ilalang kering
melatiku pudar

sampai di sini langkahku
di tengah padang diri yang sepi

sementara aku masih mendekap
ilusi dan khayalan di dada,
kusaksikan pipit terbang menembus cakrawala

Minggu, 25 September 2011

SYAIR JINGGA


Kau adalah puisi terindah dalam hidupku. Larik-lariknya menyimpan sejuta makna yang ingin kuhayati. Bukan sekedar logika. Bukan sekedar hati ‘tuk mengerti. Tetapi meleburnya diri dalam satu rasa tak berbatas. Seperti bertemunya antara siang dan malam saat senja. Tak ada sekat, tak ada pemisah. Hanya warna jingga yang sublim menyepuh kaki langit di ufuk barat. Dunia dalam hening, meredakan gelombang laut menjadi alun lembut yang berlari kecil menyentuh pasir di pantai.

Kau adalah prosa dalam jiwaku. Ceritanya tak utuh dalam satu alur. Episod yang terjalin adalah gambaran hidup yang terlampaui dan bayangan masa depan. Konflik sedih dan gembira adalah permainan rasa yang membimbing langkah mencapai tahap solusi. Maka, sebuah katarsis pemahaman atas hidup ini.

Masih ingatkah kau kisah Pangeran Elang? Diceritakan waktu itu Pangeran melamar seorang gadis untuk menjadi permaisurinya, gadis terpana bahagia. Kalimat sakral Sang Pangeran pun memahkotai jiwanya. Ketika elang kembara taklukan dunia, sang gadis menjaga amanah. Dia menunggu dengan setia mendekap janji Pangeran yang dicintainya. Musim pun berulang ganti. Tibalah elang kembali ke sarang. Sang Gadis pun menyodorkan bunga putih yang selama ini dijaganya dengan jiwa raga. Ah, tahukah kau? Sang Pangeran hanya tertawa sumbang dan berkata,” Itu sudah berlalu. Anak sapi telah menjadi sapi. Aku yang dulu begitu lugu.” Sang Gadis menyandarkan pandangan pada pucuk-pucuk pinus menahan perih air matanya. Elang bisa taklukan dunia tapi tak punya nyali akui tanggung jawab hati. Menurutmu, siapakah yang pecundang dan pemenang?

DE-JAVU


Malam ini aku adalah asap putih yang diam-diam masuk celah atap rumahmu. Perlahan kubuka pintu kamarmu. Kudekati ranjangmu. Aku tahu kau pura-pura tidur tapi menanti. Kau Adam yang menunggu Hawa. Lalu, aku menyusup dalam selimutmu. Kujamah nakal tubuh laki-lakimu, kau pagut aku. Desah nafasmu membakar pori-pori di tiap lekukku.

Rembulan telanjang berbaring di atas daun bambu. Hiraukan senandung angin malam yang mengusik tangis bayi yang kehausan karena tetek sang ibu sedang dipinjam bapak. Sesaat kutahan jalannya waktu.

Tapi, akhirnya kusaksikan kaki malam tak mampu lagi menahan bergulirnya embun jatuh di atas pelepah pisang. Kuusap lembut matamu yang terpejam. Kebersamaan ini hanyalah senandung mimpi yang terbungkus fatamorgana. Gelapnya malam adalah sembilu hati yang menyerpih luka.

Kepak jiwaku kembali meniti serat-serat kabut dini hari. Bila malam esok kau jumpai kunang-kunang di kebun, pada kerlip sinarnya telah kutitipkan sekuntum rindu, biarlah cinta memilih jalannya sendiri.

TEMLAWUNG


bulan wengi iki

cahyane pecah sandhuwuring akasia
pangiraku,
bulan kuwi isih rembulan
dhek kala sliramu ing sisihku

netramu sing edum
nyimpen sih katresnan kang nandhes sajeroning ati
lan tan ono kandhege
dak sok banyu mili tresnaku kapisan
marang sliramu

dino-dino kebak kembang mlathi
rinonce dadi kalung putih
nanging lelakon wis cuthel
kesaput mendhung lan pedhut


SEHELAI DAUN JATI MELAYANG BERPUTAR LURUH


ini sampai pada batas

antara nurani dan kekuatan
apa yang akan terjadi, apa yang akan kulakukan
embun menetes tak memberi arti
di awal musim kemarau tahun ini

kaki terayun tiada tujuan,
berlalu kelu memagut beban

derai-derai duka
kutabur di atas roda menggelinding
menyusuri lelehnya aspal jalanan
angin berhembus menyibak ranting
sehelai daun jati kering luruh
melayang berputar jatuh terserak
menutupi luka tanah yang kering merekah

kusemai dukaku tanpa menanggung harapan
kecambah tumbuh terpanggang surya
kemarin, musim hujan berlalu
kutanya dia saat jumpa
berapakah harga sebuah kata?
bola matanya meredup
hanya angin menggoyang ujung-ujung rambutnya
harum lembut tercium
panas kurasakan,
di sini kupertaruhkan arti mimpi semalam




Sabtu, 24 September 2011

APAKAH ARTI KESABARAN ANDA?


Sabar atau kesabaran sebagai suatu kata yang mudah diucapkan tetapi sulit untuk dijalani. Kata sabar akan selalu berkaitan dengan adanya kesulitan atau masalah yang dihadapi oleh seseorang. Selama menghadapi masa sulit lalu berusaha berusaha keluar dari masalah, itu merupakan sebuah proses kesabaran. Apakah kita orang yang sabar?

Apa pun yang dihadapi manusia akan memiliki makna sebagaimana manusia memahaminya. Semua manusia pasti pernah menghadapi masalah dan kesulitan. Kita harus selalu ingat bahwa “tiada ada suatu musibah (cobaan) pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah,”(At Taghaabun:11).
Jika aku merasa harus bersabar dalam menghadapi berbagai masalah di dunia ini maka bagaimanakah aku harus bersikap dan memandang masalah itu? Dalam kategori yang mana kesabaranku itu? Bagaimana dengan Anda memaknai kesabaran Anda sebagai suatu sikap?

Dalam agama, sabar memiliki dua dimensi. Pertama, sabar menghadapi cobaan atau baliyah dari Tuhan. Kedua, sabar meniti perjalanan lurus dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Ulama terkemuka Imam Junaid Al Baghdadi memberikan kriteria cobaan Allah dalam empat kategori.

(1) Adzab
Adzab yaitu cobaan Allah kepada hamba-Nya, baik perorangan, keluarga, maupun kemasyarakatan, disebabkan kesalahan hamba sendiri. Jadi, adzab adalah refleksi dari perbuatan atau pelanggaran, cerminan dosa yang diperbuat manusia itu sendiri. Jika itu sudah dijalani,berarti sudah impas dari sisi dunia, walau pun nanti di akhirat tetap dimintai pertanggungjawaban.

Cara menghadapinya dengan istighfar, pengakuan dosa, berhenti dari berbuat dosa, dan menyesal. Ini penting, karena tidak semua orang berhenti itu menyesali perbuatan dosanya. Selanjutnya, membenci perbuatan dosa yang pernah dilakukannya. Jika empat hal itu sudah dilakukan, ini namanya taubatannashuha.

(2) Imtihan atau ujian
Imtihan atau ujian, yaitu cobaan Allah yang diberikan justru karena orang itu benar untuk diuji kebenarannya dan diketahui apakah dia tetap konsisten pada kebenaran itu manakala ada goncangan. Hal seperti ini selalu ditemui oleh hamba-hamba Allah yang luhur, sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW, Idza ahabballahu ‘abdan ibdalahu, apabila Allah mencintai hambanya maka yang dikirim lebih dulu cobaannya.

(3) Musibah atau kecelakaan
Musibah atau kecelakaan murni, bukan karena kesalahan melainkan karena Allah memang menghendaki begitu. Tujuannya untuk memberi pengertian bahwa rahmat Allah itu mahal. Sebab manusia punya tabiat: ‘Yang tampak yang tidak ada, yang ada yang tidak tampak.’ Ketika kita sehat tidak tahu harga sehat. Mahalnya sehat hanya dipahami oleh orang yang sakit. Akhirnya, orang yang terkena musibah menjadi maklum bahwa manusia tidak berkuasa total atas dirinya sendiri.

(4) Istijroj
Istijroj dalam bahasa Jawa biasa diartikan penglulu, yakni adzab yang datang berbungkus nikmat. Orang minta sesuatu diberi, lantas dihancurkan melalui yang diminta itu. Orang minta kuasa diberi kekuasaan, lalu dihancurkan lewat kekuasaannya itu. Demikian juga kekayaan, status, dan semacamnya.

Istijroj  bisa terjdi karena njiyat (bahasa Jawa), bukan berdoa tapi memaksa Tuhan, dengan cara tidak halal mencapainya, juga tidak benar penggunaannya. Maka, Tuhan memberi tapi tidak ridho. Karenanya, Allah kemudian mengubah pemberian-Nya menjadi malapetaka.

          Di sini kita bisa melihat, sabar sangat fungsional dalam kehidupan. Orang jahat maupun baik, tak satu pun bisa lolos dari cobaan. Orang yang menghindar dari kesulitan akan masuk pada kesulitan baru, sehingga kesulitan harus dihadapi bukan dihindari. Karena cobaan pasti datang maka ulama mengatakan bahwa orang yang bisa sabar adalah orang yang separo sukses dalam kehidupannya, separo lagi ditempati syukur.

Sabar menghadapi goncangan pada dimensi pertama adalah orang yang digoncang tetapi tetap pada konsistensi shirotol mustaqim (jalan lurus). Jadi, konotasi sabar bukan cepat atau lambat tapi ketahanan. Dimensi kedua, sabar terhadap pendekatan kepada Allah yang biasa disebut riyadhoh, yakni proses rekayasa dan olah batin menuju Allah. Istiqomah terhadap taqarrub itulah disebut sabar karena perjalanan menuju Allah tidak mungkin tanpa godaan.

PERGESERAN DAN PEMERTAHANAN BAHASA MANDARIN PADA KELUARGA KETURUNAN WNI CINA DI KABUPATEN LUMAJANG


1. Pendahuluan
Pergeseran dan pemertahanan bahasa menyangkut soal bahasa sebagai kode yang bersifat dinamis. Karena kode-kode itu tidak pernah lepas antara yang satu dengan yang lainnya maka bahasa bisa berubah. Pergeseran bahasa (language shift) menyangkut masalah penggunaan bahasa oleh seorang penutur atau sekelompok penutur yang terjadi akibat perpindahan dari satu masyarakat tutur ke masyarakat tutur yang lain. Sedangkan pemertahanan bahasa menyangkut masalah sikap atau penilaian terhadap suatu bahasa untuk tetap menggunakan bahasa tersebut di tengah-tengah bahasa lainnya (Chaer:1995).
Adalah suatu kenyataan bahwa bahasa Indonesia terdiri dari beragam suku dan bahasa. Dalam situasi resmi orang Indonesia berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia. Tetapi, dalam situasi tidak resmi, percakapan sehari-hari, misalnya, orang Indonesia yang terdiri atas bermacam-macam suku dan berbicara dalam bermacam-macam bahasa tidak selalu memakai bahasa Indonesia dalam berkomunikasi. Mereka kadang-kadang memakai bahasa daerah masing-masing, bahasa daerah tempat asal mereka.
Tidak berbeda dengan bangsa lainnya, penggolongan masyarakat yang dilatarbelakangi oleh kebangsaan etnis (suku), kebanggaan keturunan, dan ciri-ciri khas kebahasaan yang dimiliki masih juga tampak dalam kehidupan kemasyarakatan Indonesia. Salah satu golongan yang dimaksud adalah warga negara Indonesia (WNI) keturunan Cina.
Warga negara Indonesia (WNI) keturunan Cina adalah orang-orang keturunan pendatang atau kelompok pendatang (imigran) dari Cina. Untuk berkomunikasi mereka menyesuaikan diri dengan keadaan sekitar, yaitu meninggalkan bahasa mereka sendiri lalu berganti menggunakan bahasa penduduk setempat. Lambat laun terjadilah pergeseran bahasa mereka. Selain itu, dengan munculnya kebijaksanaan pemerintah, yaitu program asimilasi terhadap seluruh penduduk WNI keturunan Cina dan penduduk Indonesia WNA semakin cepatlah proses pergeseran bahasa itu dan memunculkan sikap pemertahanan bahasa di antara kelompok-kelompok masyarakat itu.
Kajian terhadap pergeseran dan pemertahana bahasa secara umum dimaksudkan untuk mendeskripsikan terjadinya, sebab-sebab terjadinya, dan pilihan bahasa di tengan masyarakat. Berikut ini dibahas sedikit masalah pergeseran dan pemertahanan bahasa Mandarin pada satu keluarga WNI keturunan Cina di Lumajang.

2. Konsep Dasar
2.1 Pergeseran Bahasa
      Pergeseran bahasa umumnya mengacu pada proses penggantian satu bahasa dengan bahasa lain dalam repertoir linguistik suatu masyarakat. Pergeseran bahasa mengacu pada hasil proses ini (Ibrahim, 2003). Pergeseran bahasa dapat diartikan sebagai pergeseran penggunaan bahasa oleh seorang penutur atau kelompok penutur akibat perpindahan dari satu masyarakat tutur ke masyarakat tutur yang lain atau mobilitas penduduk. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pergeseran bahasa adalah:
a. Faktor ekonomi, sosial, dan politik
            Masyarakat memandang adanya alasan penting untuk mempelajari bahasa kedua dan mereka tidak memandang perlu untuk mempertahankan bahasa etnisnya. Semua itu untuk tujuan meningkatkan ekonomi, status sosial, atau kepentingan politik.
b. Faktor demografi
            Letak daerah baru yang jauh dari daerah asal bisa menjadi kontribusi mempercepat pergeseran bahasa. Hal ini disebabkan kelompok-kelompok pendatang akan mengadakan asimilasi dengan penduduk setempat agar mudah diterima menjadi bagian masyarakat setempat.
Pergeseran bahasa biasanya terjadi di negara, daerah, atau wilayah yang bisa memberi harapan untuk kehidupan sosial ekonomi yang lebih baik sehingga mengundang penduduk daerah lain untuk mendatanginya. Letak daerah baru yang jauh dari daerah asal bisa menjadi kontribusi mempercepat pergeseran bahasa. Hal ini disebabkan kelompok-kelompok pendatang akan mengadakan asimilasi dengan penduduk setempat agar mudah diterima menjadi bagian masyarakat setempat. Adanya pergeseran bahasa dapat mengakibatkan punahnya suatu bahasa karena ditinggalkan oleh para penuturnya. Peristiwa ini terjadi bila pergeseran bahasa terjadi di daerah asal suatu bahasa digunakan.

2.2 Pemertahanan Bahasa
            Pemertahanan bahasa adalah sikap atau penilaian terhadap suatu bahasa kemudian tetap menggunakan bahasa tersebut di tengah-tengah bahasa lainnya. Faktor-faktor yang mendorong terjadinya pemertahanan bahasa adalah sebagai berikut.
a.    Pola-pola penggunaan bahasa.
Ini berarti semakin banyak domain tempat dipakainya bahasa minoritas maka semakin besar kesempatannya untuk mempertahankan bahasa itu. Kemungkinan-kemungkinan itu kebanyakan akan ditentukan oleh faktor-faktor sosial ekonomi.
b.    Faktor-faktor demografis.
Jika suatu kelompok itu cukup besar sehingga mampu menyediakan banyak penutur dan mampu mengisolasi dirinya sendiri dari kontak dengan penutur bahasa mayoritas, paling tidak dibeberapa domain maka terdapat kesempatan lebih banyak untuk mempertahankan bahasa. Bila anggota-anggota masyarakat etnis tinggal di lingkungan yang sama, hal ini juga membantu mempertahankan bahasa-bahasa minoritas hidup lebih lama. Frekuensi kontak dengan tanah leluhur juga sangat penting sebagai pemberi kontribusi pemertahanan bahasa.
 c. Sikap terhadap bahasa minoritas.
            Jika bahasa dihargai dan diperlakukan dengan penuh kebangaan sebagai pengenal kelompok minoritas dan mengungkapkan budaya yang berbeda, lebih besar kemungkinan bahasa itu bertahan. Begitu pula akan sangat membantu bila bahasa itu memiliki status di masyarakat.

3. Masyarakat WNI Keturunan Cina
            Masyarakat WNI Cina ditinjau dari kebudayaannya terutama bahasa dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu: kelompok Cina peranakan dan kelompok Cina “totok” (Wolf, dalam Sudja’I, 1978). Perbedaan utama antara orang Cina peranakan dan orang Cina “totok” terletak pada bahasa mereka. Orang Cina peranakan adalah penutur asli bahasa Indonesia karena mereka lahir dan dibesarkan di Indonesia. Mereka telah meninggalkan bahasa Cina sebagai bahasa ibu mereka, namun masih tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional. Sedangkan orang Cina “totok” adalah penutur asli bahasa Cina.
            Di negeri leluhur mereka masyarakat Cina dibedakan atas empat kelas, yaitu: (1) kelas cendekiawan, (2) kelas petani, (3) kelas buruh, dan (4) kelas saudagar. Golongan (kelas) cendekiawan tidak berimigrasi ke luar. Jadi, hanya golongan 2, 3, dan 4 saja yang merantau.
            Dewasa ini orang Cina peranakan dalam berhubungan dengan teman-teman mereka, baik yang berasal dari tanah leluhurnya maupun yang berasal dari orang-orang pribumi, unsur bahasa Indonesianya lebih besar daripada kalau mereka berhubungan dengan orang-orang Cina “totok”. Sebaliknya, jika mereka berhubungan dengan orang-orang Cina "totok”, unsur Mandarinnya lebih banyak daripada unsur bahasa Indonesianya.
            Dari uraian di atasa, jelas bahwa dalam masyarakat WNI Cina telah terjadi pergeseran bahasa terutama orang Cina peranakan. Mereka bukan lagi penutur asli bahasa Cina melainkan penutur asli bahasa Indonesia.

 4. Pola Bahasa Keluarga Keturunan WNI Cina
            Meiliana adalah perempuan peranakan atau keturunan WNI Cina yang tinggal di Lumajang. Ayahnya seorang Cina ”totok” yang berimigrasi ke Indonesia dan menetap di Lumajang. Saat kecil Meiliana diasuh oleh pembantunya orang Jawa bernama Aripah. Keluarga Meiliana dalam bertutur menggunakan bahasa Jawa saat berkomunikasi dengan lingkungan di sekitarnya. Begitu juga saat bertutur dalam keluarga, mereka menggunakan bahasa Jawa dengan sedikit campuran bahasa Cina (Mandarin).
            Meiliana menikah dengan pria yang sama-sama keturunan WNI Cina. Saat berkomunikasi dengan suaminya, Meiliana menggunakan bahasa campuran, yaitu bahasa Jawa, bahasa Indonesia, dan sedikit bahasa Mandarin. Tetapi saat bertutur dengan teman-temannya sesama keturunan WNI Cina, Meiliana banyak menggunakan bahasa Indonesia dengan disisipi bahasa Mandarin.
            Pada  2001 di Lumajang berdiri tempat kursus bahasa Mandarin “Maju Bersama”. Pada awalnya tempat kursus itu dibuka untuk kalangan orang-orang keturunan WNI Cina saja, tetapi kemudian dibuka untuk umum. Di tempat inilah Meiliana meningkatkan kemampuannya berbahasa Mandarin  Suatu hal yang tidak diperolehnya saat orang tuanya hidup. Selain itu ia pun mengikuti organisasi orang-orang keturunan WNI Cina. Dalam satu kesempatan Meiliana  mengikuti tour ke negeri Cina, kesempatan ini dipergunakan untuk menelusuri kota asal leluhurnya.

5. Pembahasan                                                                                                        
            Pola bahasa  Meiliana  secara bertahap mengalami pergeseran. Ayah Meiliana adalah Cina “totok”, penutur asli bahasa Mandarin. Ketika berimigrasi ke Indonesia dan menetap di Lumajang, ia berdaptasi dengan lingkungan barunya. Ia pun terpengaruh kebudayaan pribumi. Akibatnya, lambat laun ia meninggalkan bahasa aslinya dan menggunakan bahasa Jawa.
            Hal ini terus berlangsung sampai pada anak-anaknya. Pada generasi inilah pergeseran bahasa benar-benar terjadi. Anak-anaknya tidak menguasai bahasa Mandarin. Meiliana hanya mengenal bahasa Mandarin secara terbatas karena orang tuanya tidak lagi menggunakan bahasa itu. Saat ia diasuh oleh orang pribumi, maka semakin sempurnalah ia sebagai penutur asli bahasa Jawa.
            Bila diperhatikan pergeseran bahasa yang terjadi karena banyak dipengaruhi oleh faktor sosial budaya. Sebagai pendatang, mereka harus secepatnya beradaptasi dengan lingkungan barunya. Cara termudah agar bisa diterima adalah dengan mengusai bahasa setempat, meninggalkan bahasa aslinya, kemudian membaur dengan budaya masyarakat sekitarnya.
            Warga negara Indonesia keturunan asing dan warga negara asing di Indonesia meliputi berbagai bangsa, yaitu bangsa Cina, Arab, Pakistan, India, Belanda, dan sebagainya. Di antara bangsa-bangsa itu secara kualitatif yang paling dominan adalah keturunan WNI Cina. Dengan kewarganegaraan ini mereka telah menjadi bagian bangsa Indonesia.
            Terhadap anak-anak keturunan asing, pemerintah mengeluarkan program pengintegrasian. Diharapkan dengan program ini warga negara Indonesia keturunan asing dapat mendalami nilai-nilai hidup dan kehidupan bangasa Indonesia serta bersama-sama menghayati falsafah Pancasila sebagai landasan persatuan bangsa.
            Salah satu program pengintegrasian itu adalah pengadaan asimilasi, yaitu kebijaksanaan pemerintah di bidang pendidikan, anak didik warga negara Indonesia keturunan asing dan anak didik penduduk Indonesia warga negara asing guna mendapatkan pendidikan nasional Asimilasi itu bertujuan dan bermaksud :
a.       menimbulkan dan memupuk kesatuan nilai, sikap hidup, dan perilaku sehingga tercipta persatuan dan kesatuan bangsa, senasib seperjuangan, sebangsa dan setanah air, serta mempunyai tekad bersama mencapai cita-cita bangsa dan negara Indonesia berdasarkan falsafah negara Indonesia;
b.      menumbuhkan perasaan sebagai anggota atau bagian masyarakat bangsa Indonesia seutuhnya sehingga tercapai perikehidupan yang serasi  dengan terdapat tingkat kemajuan masyarakat yang merata dan seimbang serta adanya keselarasan kehidupan yang sesuai dengan kemajuan bangsa (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, dalam  Sutini Paimin: 1985).
 Warga negara Indonesia keturunan Cina secara kuantitatif paling dominan sehingga terhadap merekalah perhatian program asimilasi dilakukan.
Salah satu faktor yang memegang peranan penting dalam proses asimilasi adalah faktor penguasaan terhadap bahasa Indonesia baik secara lisan maupun tertulis bagi warga negara keturunan Cina. Penguasaan bahasa Indonesia akan mempermudah penghayatan terhadap falsafah bangsa Indonesia, yaitu Pancasila. Dengan demikian, WNI keturunan Cina sebagai bagian warga negara kesatuan Republik Indonesia dituntut mempelajari dan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sesuai dengan Undang-undang Dasar 1945, Bab XV, pasal 36,yaitu, “Bahasa Negara adalah bahasa Indonesia.
            Program pemerintah berupa asimilasi seperti uraian di atas menjadi tekanan kuat bagi WNI keturunan Cina untuk melakukan pergeseran bahasa. Peristiwa itu sempurna terjadi karena generasi muda seperti Meiliana tidak lagi menguasai bahasa Mandarin. Bahkan, mereka pun menjadi penutur asli bahasa Indonesia.
            Pergeseran bahasa telah terjadi di tengah-tengah masyarakat keturunan Cina tetapi mereka pun berupaya melindungi bahasa Mandarin. Khusus di Lumajang, para WNI keturunan Cina mengambil satu langkah untuk mempertahankan bahasa Mandarin dengan membuka tempat kursus bahasa Mandarin, “Maju Bersama”. Di tempat kursus inilah Meiliana dan generasi muda keturunan Cina lainnya mendapat bimbingan dan memperdalam penguasaannya terhadap bahasa Mandarin. Suatu hal yang tidak dapat diperoleh secara penuh dari orang tua mereka. Dalam satu kesempatan tempat kursus ini mengadakan perjalanan ke negeri Cina sebagai upaya menelusuri tempat leluhur mereka. Dengan hal itu terlihatlah adanya kontak dengan daerah asal mereka, maka semakin kuatlah usaha mereka dalam mempertahankan bahasa Mandarin.

6. Penutup
            Pergeseran pemakaian bahasa dari bahasa Mandarin ke bahasa Indonesia telah terjadi pada keluarga keturunan WNI Cina di Lumajang. Faktor penyebab pergeseran itu adalah faktor sosial budaya dan program integrasi dari pemerintah, yaitu program asimilasi. Tetapi, selain adanya pergeseran bahasa, keluarga keturunan WNI Cina melakukan usaha mempertahankan bahasa Mandarin dengan cara membuka tempat kursus bahasa Mandarin mengadakan kunjungan ke negeri tempat leluhur mereka, Cina.



Daftar Pustaka
  1. Chaer, Abdul. 1995. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: PT Rineka Cipta.
  2. Ibrahim, Abdul Syukur. 2003. Bahan Ajar Pendalaman Sosiolinguistik. Malang: Program Pascasarjana Universitas Islam Malang.
  3. Sudja’I, M.1978. Pemakaian Bahasa Indonesia di Lingkungan Masyarakat Tionghoa Jawa Timur. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.